MoU dengan Borobudur, Ternate dan Tidore Promosikan Wisata Selama 40 Hari
CARITA KOTA – Pemerintah Kota Ternate dan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan manajemen Hotel Borobudur untuk mendorong promosi wisata dan menarik investasi melalui kolaborasi potensi daerah.
Kesepakatan yang difasilitasi Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu akan menghadirkan berbagai potensi wisata kedua daerah selama 40 hari di Hotel Borobudur. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antarwilayah dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, mengatakan fokus utama kerja sama tersebut adalah promosi wisata, termasuk memperkenalkan potensi alam, budaya, kuliner, UMKM, hingga peluang investasi.
“Melalui momentum ini, seluruh potensi yang ada bisa tereksplorasi dan dilihat secara luas,” ujar Tauhid, Rabu 1 April 2026.
Ia menjelaskan, Ternate dan Tidore telah membagi porsi promosi masing-masing, namun menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kekuatan sejarah yang dimiliki Ternate dan potensi maritim Tidore dapat digabungkan menjadi daya tarik bersama.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu mendatangkan investor melalui promosi potensi wisata sejarah dan maritim,” katanya.
Tauhid menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya berlangsung sekali, tetapi dapat berkelanjutan. Ia juga berharap momentum 40 hari itu tidak sebatas promosi, melainkan melahirkan paket kebijakan yang dapat ditawarkan kepada investor maupun kementerian.
Sementara itu, Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen mengatakan, pihaknya akan mempromosikan potensi maritim seperti Pulau Maitara, Woda, Filonga, hingga Pulau Mare, termasuk atraksi lumba-lumba.
“Melalui APEKSI dan kegiatan di Borobudur ini, potensi dua kota yang memiliki sejarah kuat bisa lebih dikenal luas,” ujarnya.
Ketua APEKSI menilai kolaborasi Ternate dan Tidore menjadi contoh sinergi antar daerah di tengah keterbatasan fiskal. Ia menegaskan, kreativitas daerah tidak hanya untuk menarik investor, tetapi juga memperkenalkan pariwisata dan UMKM ke tingkat global.
“Apeksi hanya memfasilitasi, selebihnya bergantung pada inovasi dan komitmen pemerintah daerah masing-masing,” pungkasnya.***







Tinggalkan Balasan