CARITA KOTA – City Gallery Kota Ternate didorong tidak sekadar menjadi ruang untuk memamerkan foto, bangunan bersejarah maupun peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, City Gallery harus mampu menjadi “antarmuka” yang menghubungkan memori kota, pengetahuan, identitas, dan pengalaman masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Joko Santoso, dalam Seminar Nasional Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) Tahun 2026 bertajuk “Transformasi City Gallery sebagai Ruang Inklusif”.

Menurut Joko, terdapat empat komponen penting yang perlu diperhatikan dalam membangun City Gallery sebagai bagian dari city memory infrastructure atau infrastruktur memori kota.

Komponen pertama adalah place, yakni ruang atau tempat yang menjadi bagian dari identitas kota, mulai dari situs, bangunan hingga lanskap yang memiliki nilai sejarah.

Kedua adalah memory atau memori yang tersimpan dalam berbagai bentuk sumber pengetahuan. Memori kota tersebut dapat berupa koleksi perpustakaan, manuskrip, dokumen, objek, cerita, surat kabar maupun foto-foto sejarah.

“Ketiga, ownership. Ini adalah adanya interpretasi, adanya dialog, adanya komunikasi, adanya penyebaran informasi,” kata Joko.

Sementara komponen keempat adalah identity atau identitas. Menurutnya, identitas sebuah tempat tidak hanya dibentuk oleh ruang secara fisik, tetapi juga oleh makna, pengalaman, keterikatan emosional dan sejarah yang dimiliki masyarakat terhadap tempat tersebut.

Ia menjelaskan, terdapat perbedaan antara space dan place. Space lebih merujuk pada ruang secara fisik, sedangkan place memiliki dimensi yang lebih luas karena berkaitan dengan makna, pengalaman, identitas hingga keterikatan historis.

“Jadi kalau kita bicara space dan place, space biasanya kita bicara ruang secara fisik, kalau place kita bicara tidak hanya ruang, kita bicara makna, soal pengalaman, soal identitas, soal keterikatan emosional, bahkan mungkin juga soal keterikatan historis,” ujarnya.

Menurut Joko, seluruh unsur tersebut kemudian membentuk identitas sebuah kota sekaligus rasa memiliki masyarakat terhadap warisan yang ada di dalamnya.

Ia menilai Ternate memiliki karakter dan identitas yang berbeda dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia maupun dunia. Karena itu, kekayaan sejarah dan warisan Ternate perlu diterjemahkan melalui pendekatan yang mampu membangun rasa keterikatan masyarakat terhadap kotanya.

Dalam pengembangan City Gallery, kata Joko, interpretasi terhadap warisan atau heritage interpretation tidak boleh hanya berorientasi pada penyampaian fakta dan data. Pendekatan tersebut harus mampu memperkuat sense of place atau rasa masyarakat terhadap tempat yang mereka miliki.

“Dari empat komponen inilah ada interpretasi terhadap warisan, heritage interpretation yang perlu dirancang bukan hanya soal menyampaikan fakta dan data, tetapi juga memperkuat sense of place,” katanya.

Karena itu, City Gallery juga harus membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan makna terhadap berbagai warisan yang dimiliki Ternate. Partisipasi publik dinilai penting agar pengetahuan yang dibangun tidak hanya berasal dari institusi, tetapi juga dari pengalaman dan cerita masyarakat.

“City Gallery ini haruslah menghubungkan tempat fisik dengan pengetahuan tentang tempat itu. Jadi harus juga membuka ruang bagi warga untuk bisa memberikan makna,” jelasnya.

Joko kemudian menyebut terdapat tiga prinsip utama City Gallery sebagai ruang belajar kota.

Pertama, akses pengetahuan. City Gallery harus mampu membuka koleksi, arsip dan berbagai referensi mengenai kota sehingga informasi terkait tempat, peristiwa maupun fenomena tertentu dapat ditemukan dengan mudah oleh masyarakat.

Kedua, pemahaman identitas kota. City Gallery harus mampu menghubungkan suatu tempat dengan sejarahnya, termasuk melalui toponimi atau asal-usul nama wilayah yang sering kali memiliki cerita dan makna tertentu.

“Nama sebuah wilayah itu berhubungan dengan cerita-cerita tertentu, dan juga ini dikembangkan oleh komunitas, dan seterusnya sehingga melahirkan satu narasi kota yang memiliki makna,” ungkapnya.

Ketiga, City Gallery harus menjadi sarana pembelajaran interpretatif. Bentuknya dapat berupa pameran berkala maupun program publik yang memungkinkan masyarakat terlibat secara langsung.

Joko menilai perkembangan teknologi digital juga harus dimanfaatkan untuk menarik keterlibatan generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alfa. Program seperti lomba vlog, animasi maupun kegiatan kreatif digital dapat menjadi sarana untuk mengajak generasi muda mengenal dan menceritakan kembali sejarah kotanya dengan bahasa mereka sendiri.

“Prinsipnya tidak untuk melihat saja, tetapi juga ada experience,” tegasnya.

Dengan pendekatan tersebut, City Gallery Ternate diharapkan berkembang menjadi ruang yang mempertemukan arsip, sejarah, masyarakat, teknologi dan kreativitas. Bukan hanya sebagai tempat melihat masa lalu, tetapi sebagai ruang belajar dan mengalami identitas kota secara langsung.***