Gubernur Sherly Target Malut Punya Peternakan Ayam Petelur Sendiri
CARITA KOTA – Pemerintah Provinsi Maluku Utara menargetkan pembangunan peternakan ayam petelur pada tahun 2026 untuk menekan tingginya harga telur di daerah yang saat ini mencapai 50 persen lebih mahal dibandingkan Pulau Jawa dan Sulawesi.
Target tersebut disampaikan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, saat memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Provinsi Maluku Utara di Gamalama Ballroom Bela Hotel, Ternate, Jumat 8 Mei 2026.
Sherly mengatakan, hingga kini Maluku Utara masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah, termasuk ayam potong dan telur yang belum diproduksi secara mandiri.
“Pemprov sedang menjajaki kerja sama dengan investor untuk pengembangan lahan peternakan seluas 5 hingga 10 hektare. Targetnya tahun 2026 Maluku Utara sudah memiliki peternakan ayam petelur sendiri,” kata Sherly.
Menurutnya, keberadaan peternakan mandiri diharapkan mampu menekan disparitas harga telur yang cukup tinggi di Maluku Utara.
Dalam kesempatan itu, Sherly juga menyampaikan angka inflasi Maluku Utara berhasil ditekan dari sebelumnya menyentuh 5 persen pada Maret 2026 menjelang Ramadan, menjadi 2,03 persen secara year on year (y-on-y) dan 2,59 persen year to date pada Mei 2026.
“Angka ini sudah berada di bawah standar nasional. Ini hasil kerja keras seluruh stakeholder dalam menjaga stabilitas harga di Maluku Utara,” ujarnya.
Selain sektor peternakan, Pemprov Malut juga memberi perhatian terhadap distribusi Minyak Kita. Saat ini, distribusi di Ternate, Tidore, dan Sofifi disebut mampu menjaga harga eceran tertinggi (HET) di angka Rp15.700.
Namun, Sherly mengaku masih ada pedagang pasar tradisional yang menjual minyak goreng tersebut hingga Rp20 ribu per liter. Karena itu, program distribusi akan diperluas ke delapan kabupaten lain di wilayah Halmahera.
“Kami juga sedang berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait pemenuhan kuota stok Minyak Kita yang seharusnya 600 ribu liter, tetapi saat ini baru tersedia 100 ribu liter di gudang,” katanya.
Menghadapi Idul Adha, Pemprov Malut menyiapkan sejumlah langkah pengendalian harga dan pasokan pangan, di antaranya pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di 10 kabupaten/kota, distribusi 100 ekor sapi kurban, hingga program cetak sawah baru seluas 10 ribu hektare.
Dalam forum tersebut, Sherly turut menginstruksikan seluruh kepala daerah di Maluku Utara agar melakukan langkah serupa untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok di daerah masing-masing.***







Tinggalkan Balasan