CARITA KOTA – RSUD dr. Chasan Boesoirie Ternate menargetkan layanan bedah jantung terbuka dapat mulai diwujudkan pada akhir 2026. Target tersebut dilakukan di tengah meningkatnya jumlah pasien penyakit jantung di Maluku Utara serta tingginya kebutuhan rujukan ke rumah sakit di luar daerah.

Direktur RSUD dr. Chasan Boesoirie Ternate, dr. Rosita Alkatiri, mengatakan berdasarkan data internal rumah sakit, jumlah pasien penyakit jantung mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2020 hingga 2025, khususnya pada kelompok dewasa.

Pasien rawat jalan meningkat dari 439 kasus pada 2020 menjadi 820 kasus pada 2025. Sementara pasien rawat inap naik dari 291 kasus menjadi 580 kasus dalam periode yang sama.

“Angka-angka tersebut menjadi cerminan nyata bahwa masyarakat Maluku Utara membutuhkan akses layanan jantung yang lebih cepat, lebih lengkap dan lebih terintegrasi,” kata Rosita dalam agenda peresmian Gedung Pelayanan Jantung Terpadu RSUD dr. Chasan Boesoirie Ternate, Jumat 28 Agustus 2026.

Rosita mengatakan, kebutuhan terhadap layanan jantung juga terlihat dari jumlah pasien yang harus dirujuk ke luar daerah. Pada 2025, tercatat 117 pasien dirujuk ke rumah sakit di luar Maluku Utara, antara lain Rumah Sakit Jantung Harapan Kita dan rumah sakit rujukan lainnya.

Menurutnya, kasus STEMI atau serangan jantung akut juga mengalami peningkatan tajam dan menjadi salah satu tantangan utama pelayanan jantung di Maluku Utara.

Untuk memperkuat layanan, RSUD dr. Chasan Boesoirie telah mendapat dukungan alat kateter dan peralatan kesehatan melalui program SIREN dari Kementerian Kesehatan. Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi Maluku Utara membangun Gedung Pelayanan Jantung Terpadu secara bertahap melalui APBD sejak 2023 hingga 2025.

Rosita menyebut, rumah sakit saat ini terus mempersiapkan kebutuhan alat kesehatan dan sumber daya manusia untuk mewujudkan layanan bedah jantung terbuka. Dari tujuh profesi yang dibutuhkan sebagai pendukung layanan tersebut, baru tiga profesi yang telah terpenuhi.

Sementara itu, sejumlah tenaga dokter spesialis dan perfusionist masih menjalani pendidikan. RSUD juga telah mengusulkan pemenuhan tenaga dokter melalui program PGDS pada 2026.

“Chasan Boesoirie saat memiliki 4 tenaga dokter spesialis jantung. Untuk saat ini pelayanannya itu cath lab atau pemasangan cincin pada jantung,” ucapnya.

Selain persiapan bedah jantung terbuka, RSUD dr. Chasan Boesoirie juga mulai memperkuat kemampuan intervensi jantung non-bedah. Pada hari yang sama dilakukan prosedur intervensi non-bedah jantung perdana terhadap lima pasien dengan pendampingan dokter berpengalaman dari rumah sakit rujukan nasional.

Rosita menegaskan, pihaknya tetap optimistis layanan bedah jantung terbuka dapat hadir di RSUD dr. Chasan Boesoirie tahun ini, meski masih terdapat sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi, terutama dari sisi SDM dan alat kesehatan.***