Pedagang di Ternate Khawatir 118 Karung Bawang Merah Rusak Akibat Terlambat Dibongkar
CARITA KOTA – Sebanyak 118 karung bawang merah milik pedagang Pasar Barito Gamalama, Kota Ternate, hingga Kamis 27 Agustus 2026 masih berada di atas kapal kanto di Pelabuhan Ahmad Yani, sehari setelah kapal tiba dari Makassar. Pedagang khawatir keterlambatan pembongkaran membuat bawang rusak dan berdampak pada pasokan serta harga di pasar.
Pedagang sembako, Rosnani, mengatakan kapal yang membawa muatan bawang merah tersebut tiba di Ternate sejak Rabu 26 Agustus 2026. Namun, hingga Kamis, barang miliknya belum juga diturunkan oleh pihak ekspedisi.
“Saya ada kiriman dari Makassar, bawang merah 118 karung. Sebenarnya dari kemarin sudah sampai di sini di pelabuhan. Tapi, saya telepon kemarin Pak Ambon belum bongkar, belum ada kabar bongkar, masih di atas kapal,” kata Rosnani kepada caritakota.com, Kamis 27 Agustus 2026.
Rosnani kembali menghubungi pihak ekspedisi untuk memastikan kondisi muatannya. Ia mendapat informasi bahwa proses pembongkaran belum dilakukan karena masih menunggu selesainya agenda kunjungan di kapal.
“Tadi saya telepon lagi. Belum ada bongkar. Masih ada kunjungan katanya. Tunggu selesai kunjungan baru dibuka,” ujarnya.
Ia khawatir bawang merah mengalami kerusakan apabila terlalu lama berada di dalam kapal. Menurutnya, kondisi tersebut bukan pertama kali terjadi.
Rosnani mengaku sebelumnya pernah menerima kiriman sekitar lima ton bawang merah menggunakan kapal kanto yang baru dibongkar setelah hampir sepekan berada di kapal. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian bawang rusak dan nilai jualnya turun.
“Beberapa hari sandar di belakang sini, satu minggu. Kita konfirmasi lagi ada yang rusak katanya. Padahal saya beli di sana lagi mahal. Gara-gara beberapa hari itu turun drastis harganya di sini,” katanya.
Menurut Rosnani, 118 karung bawang merah tersebut tidak hanya untuk kebutuhan dagangannya sendiri. Sejumlah pedagang di Pasar Barito Gamalama telah memesan bawang melalui dirinya dengan jumlah antara 200 kilogram hingga 500 kilogram.
Ia memastikan keterlambatan tersebut bukan disebabkan persoalan pembayaran biaya ekspedisi. Pembayaran ekspedisi, kata dia, ditangani oleh pemilik atau bos, sementara dirinya hanya menerima barang kiriman.
“Masalahnya cuma di pembongkaran saja, masalah lain-lain tidak ada. Kalau bilang di sini yang belum dibayar, saya segera bayar. Baru dua kali saya pakai ekspedisi ini,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pedagang Pemasok Kota Ternate, Mas Nur, mengatakan persoalan keterlambatan pembongkaran tersebut sudah terjadi untuk kedua kalinya.
Ia menilai keterlambatan distribusi bawang merah berisiko terhadap kualitas dan berat komoditas karena mudah rusak, membusuk hingga mengalami penyusutan.
“Intinya permasalahan ini sudah kedua kalinya. Dampaknya itu sangat penting sekali, karena risiko bawang ini mudah rusak, busuk, susut timbangannya,” ujarnya.
Mas Nur juga mengingatkan keterlambatan pasokan dapat memengaruhi ketersediaan dan harga bawang merah di tingkat konsumen. Jika pasokan terlambat masuk ke pasar, harga berpotensi mengalami kenaikan signifikan.
“Konsumen kalau sampai ada keterlambatan pasokan nanti akan terjadi kenaikan harga yang signifikan, sangat tinggi,” katanya.
Karena itu, ia meminta pihak terkait, termasuk pihak yang menangani aktivitas bongkar muat di Ternate, segera menyelesaikan persoalan tersebut agar tidak kembali terjadi.
Ia juga meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperhatikan kelancaran distribusi komoditas pangan, termasuk bawang merah, karena pasokan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
“Kami mengimbau semua masalah yang ada, khususnya di Ternate yang bongkar muat ini, segera menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai terulang lagi,” pungkasnya.***





Tinggalkan Balasan