CARITA KOTA – Komunitas Save Ake Gaale mendesak Pemerintah Kota Ternate segera mengimplementasikan hasil riset konservasi sumber air Ake Gaale yang disusun bersama USAID IUWASH. Selain menuntaskan pembangunan 1.000 sumur resapan, komunitas tersebut juga meminta kawasan Ake Gaale ditetapkan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) guna memperkuat upaya pelestarian sumber air secara berkelanjutan.

Desakan itu disampaikan Ketua Save Ake Gaale, Alwan Arif, usai pelaksanaan ritual Ake Ma Sou di kawasan sumber air Ake Gaale, Kelurahan Sangaji, Kecamatan Ternate Utara, Senin 3 Agustus 2026.

Alwan mengatakan Save Ake Gaale bersama USAID IUWASH telah menyelesaikan riset kerentanan mata air selama lima tahun sebagai bagian dari program revitalisasi kawasan Ake Gaale. Hasil penelitian tersebut telah diserahkan kepada Pemerintah Kota Ternate sebagai dasar penyusunan kebijakan konservasi sumber air.

Namun, menurutnya, pelaksanaan rekomendasi hasil penelitian masih belum berjalan optimal. Salah satu rekomendasi utama adalah pembangunan 1.000 sumur resapan di kawasan daerah tangkapan air (catchment area) Ake Gaale, sementara realisasi hingga kini baru sekitar 200 unit.

“Kalau target 1.000 sumur resapan itu bisa terpenuhi, debit air Ake Gaale diperkirakan meningkat lebih dari 200 liter per detik. Potensi ini bukan hanya penting bagi Ake Gaale, tetapi juga dapat diterapkan pada sumber-sumber air lain di Kota Ternate,” ujar Alwan.

Selain pembangunan sumur resapan, hasil penelitian juga merekomendasikan pengendalian pencemaran air tanah melalui konversi septic tank resap menjadi septic tank kedap. Menurut Alwan, penelitian menemukan masih banyak kebocoran septic tank resap yang mencemari air tanah.

Ia menjelaskan program konversi septic tank telah dimulai di Kelurahan Sangaji melalui dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), namun jumlahnya masih terbatas sehingga masih banyak septic tank yang belum dikonversi.

Alwan menegaskan pengelolaan sumber daya air seharusnya mengacu pada hasil penelitian agar rekomendasi yang telah disusun tidak berhenti sebagai dokumen.

Save Ake Gaale juga meminta Pemerintah Kota Ternate menetapkan kawasan Ake Gaale sebagai Ruang Terbuka Hijau. Menurutnya, perubahan status kawasan akan mempermudah pemerintah mengalokasikan program pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis konservasi.

“Kawasan ini berdampingan dengan Benteng Toloko. Kalau ditata menjadi ruang terbuka hijau, bukan hanya sumber air yang terlindungi, tetapi juga bisa menjadi destinasi wisata sejarah dan lingkungan yang saling mendukung,” katanya.

Ia menambahkan, berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat, keberadaan sumber air Ake Gaale menjadi salah satu alasan dibangunnya Benteng Toloko di lokasi tersebut.

Alwan memastikan komunitas Save Ake Gaale akan terus menjaga keberadaan sumber air tersebut karena menjadi salah satu sumber air baku Perumda Air Minum Ake Gaale yang melayani kebutuhan air bersih masyarakat Kota Ternate.

Ia juga mengajak masyarakat menghidupkan kembali kearifan lokal dalam menjaga sumber air, seperti tidak membuang sampah, meludah, buang air kecil maupun buang air besar di sekitar kawasan mata air.

Selain menjadikan ritual Ake Ma Sou sebagai agenda tahunan yang difasilitasi Dinas Kebudayaan, Save Ake Gaale juga meminta pemerintah menata kawasan sumber air lainnya di Kota Ternate, termasuk Danau Ngade, serta memperkuat sistem pengelolaan limbah agar kualitas air tetap terjaga.***