Talk Show di Ternate, Muslimat NU Dorong Edukasi Gizi di Tingkat Keluarga
CARITA KOTA – Konsumsi makanan dan minuman manis pada balita masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan data survei yang dipaparkan dalam talk show edukasi gizi di Ternate, sekitar 55,6 persen balita masih mengonsumsi makanan atau bahan pangan manis, sementara 30,4 persen mengonsumsinya secara rutin sebagai topping.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Satria Yudistira, dalam talk show Meluruskan Persepsi Tentang Susu Kental Manis: Membangun Generasi Sehat melalui Edukasi Gizi, Pencegahan Stunting, dan Perlindungan Anak di Hotel Jati, Ternate Selatan, Maluku Utara, Rabu 19 Agustus 2026.
Talk show tersebut digagas oleh Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan YAICI. Kegiatan menghadirkan Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU dr. Erna Yulia Soefihara, Satria Yudistira, serta Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat dan Gizi Dinas Kesehatan Maluku Utara, Aspar Abdul Gani.
Satria mengatakan persoalan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kecukupan makanan, tetapi juga pola konsumsi yang berpotensi memengaruhi kesehatan dan status gizi anak.
“Permasalahan kita ada dua, yakni masalah gizi anak dan pola makan anak yang berakibat pada gizi anak itu sendiri. Kemudian ada masalah konsumsi manis yang mewakili kesalahan persepsi dalam pemberian makanan kepada anak,” kata Satria.
Menurutnya, pemberian makanan manis sebagai topping masih diperbolehkan, tetapi takaran dan frekuensinya harus diperhatikan agar tidak berlebihan.
“Permasalahannya, takaran topping itu juga ternyata berlebihan. Ini yang perlu kita edukasi bersama,” ujarnya.
Satria menyebut hasil observasi di sejumlah daerah, termasuk dua lokasi di Maluku Utara, juga menemukan balita yang terbiasa mengonsumsi jajanan manis seperti biskuit, kue, dan minuman berperisa.
Bahkan, terdapat anak yang mengonsumsi susu UHT berperisa hingga empat sampai lima kotak dalam sehari. Menurut Satria, kandungan gula pada minuman tersebut perlu menjadi perhatian orang tua.
“UHT berperisa itu kalau kita lihat gulanya mungkin tinggi sekali. Ini perlu dijelaskan agar kita sama-sama tahu apa solusinya dan tidak hanya membeli produk tanpa mengetahui apakah itu susu yang tepat,” katanya.
Selain konsumsi makanan dan minuman manis, Satria juga menyoroti masih adanya balita yang tidak mengonsumsi sumber protein secara rutin. Beberapa anak bahkan menolak makanan seperti ikan dan telur.
Ia menilai kondisi tersebut membutuhkan pendekatan yang tepat dari orang tua dan pengasuh agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi. Edukasi juga perlu melibatkan kader kesehatan dan lingkungan sekitar anak.
Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat dan Gizi Dinas Kesehatan Maluku Utara, Aspar Abdul Gani, meminta orang tua lebih waspada dalam memberikan susu kental manis kepada anak.
Menurut Aspar, kandungan gula dalam susu kental manis perlu diperhatikan karena konsumsi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan berbagai masalah kesehatan pada anak.
“Kalau susu kental manis ini masuk dengan kencang, saya kira data kita akan memberikan kenaikan. Kalau kita tidak antisipasi, ini perlu diperhatikan,” kata Aspar.
Ia menegaskan susu kental manis tidak tepat dijadikan pengganti ASI maupun sumber utama pemenuhan gizi bayi.
Aspar juga mengingatkan pentingnya pola pemberian makan bayi dan anak sejak lahir. Bayi dianjurkan mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), sementara ASI tetap diberikan hingga usia dua tahun.
“Bayi di bawah enam bulan harus eksklusif. Setelah enam bulan baru diberikan makanan pendamping ASI dan ASI tetap dilanjutkan sampai dua tahun,” ujarnya.
Menurut Aspar, pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk perkembangan otak dan kemampuan kognitif.
Karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini. Ia menilai intervensi terhadap anak yang sudah mengalami stunting akan lebih banyak diarahkan untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan tidak selalu dapat mengembalikan kondisi anak seperti semula.
Aspar juga menyoroti faktor ekonomi dan sosial yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Harga susu kental manis yang relatif murah dan mudah diperoleh dinilai berpotensi membuat produk tersebut diberikan kepada anak tanpa memperhatikan kandungan gizinya.
“Jangan hanya melihat mereknya. Harus diperhatikan kadar gula, kandungan dan isinya, karena jangan sampai namanya susu, tetapi kandungannya tidak sesuai untuk asupan gizi anak,” katanya.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara, mendorong penggunaan pendekatan keagamaan dalam edukasi pola konsumsi sehat di tingkat keluarga.
Menurut Erna, pendekatan agama dinilai lebih mudah diterima masyarakat, khususnya ibu yang memiliki balita, sehingga dapat membantu mendorong perubahan perilaku dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
“Sebagai Muslimat, kita memiliki tanggung jawab untuk ikut berbuat dan berikhtiar demi generasi penerus. Saya yakin perubahan perilaku akan lebih cepat jika dilakukan dengan pendekatan agama,” kata Erna.
Erna mengatakan Muslimat NU dapat berperan melalui edukasi langsung kepada keluarga. Dari kunjungan ke sejumlah keluarga yang memiliki balita, pihaknya masih menemukan pola konsumsi makanan dan minuman manis.
Ia mencontohkan hasil kunjungan ke 11 keluarga di Bandung Barat beberapa pekan lalu. Sejumlah keluarga ditemukan cukup sering mengonsumsi teh manis dan jajanan dari warung.
“Ada yang dalam sehari mengonsumsi beberapa gelas teh manis, bahkan ada yang setiap hari membeli jajanan di warung,” katanya.
Erna menilai temuan tersebut memperkuat pentingnya literasi gizi di tingkat keluarga. Keterlibatan Muslimat NU melalui pendekatan keagamaan diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga pola konsumsi dan kesehatan anak.***





Tinggalkan Balasan