Gubernur Malut Apresiasi Operasi Modifikasi Cuaca untuk Tangani Karhutla
CARITA KOTA – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos mengapresiasi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan BNPB, BMKG, BPBD Maluku Utara, PT Smart Cakrawala Aviation, serta kru dan tim teknis untuk meningkatkan peluang hujan dalam penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sherly mengatakan, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan koordinasi lintas lembaga, termasuk pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca berdasarkan kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada BNPB, BMKG, BPBD Maluku Utara, PT Smart Cakrawala Aviation, serta seluruh kru dan tim teknis yang terus bekerja melakukan upaya penanganan karhutla di Maluku Utara. Ini merupakan kerja bersama yang membutuhkan kecepatan, ketepatan dan koordinasi,” ujar Sherly.
Menurutnya, OMC merupakan salah satu instrumen untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan. Namun, operasi tersebut tidak menggantikan upaya pencegahan maupun penanganan sumber api di lapangan.
“OMC bekerja dengan memanfaatkan awan yang memang memiliki potensi untuk menghasilkan hujan. Karena itu, keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi cuaca,” katanya.
Sherly juga mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, mencegah munculnya titik api dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran.
Berdasarkan laporan harian OMC BNPB-BMKG per 6 September 2026, potensi pertumbuhan awan hujan di Maluku Utara berada pada kategori sedang, sekitar 50–70 persen.
Potensi pertumbuhan awan kategori tinggi atau lebih dari 70 persen terpantau di Pulau Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Timur dan sebagian Halmahera Selatan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan wilayah penyemaian. Prioritas diarahkan pada wilayah yang memiliki hotspot, terutama Halmahera Utara, Halmahera Barat, Pulau Morotai dan Halmahera Timur, dengan mempertimbangkan keberadaan awan potensial serta kondisi hari tanpa hujan.
Pada 6 September 2026, pesawat Cessna Caravan PK-SNL melaksanakan dua sorti penerbangan. Sorti pertama berlangsung pukul 12.09–14.19 WIT di wilayah Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, sedangkan sorti kedua pada pukul 15.07–17.40 WIT di Halmahera Utara dan Pulau Morotai.
Dalam setiap sorti, pesawat menggunakan 1.000 kilogram bahan semai NaCl pada ketinggian sekitar 10.000 kaki.
Dengan dua penerbangan tersebut, total pelaksanaan OMC hingga 6 September mencapai tiga sorti, dengan waktu terbang 6 jam 59 menit dan penggunaan 3.000 kilogram bahan semai NaCl.
Untuk 7 September 2026, OMC direncanakan kembali dilakukan sebanyak dua sorti dengan wilayah penyemaian Maluku Utara dan ketinggian operasi 8.000–12.000 kaki.
Namun, jadwal penerbangan bersifat tentatif karena pelaksanaan penyemaian bergantung pada perkembangan awan konvektif yang memenuhi kriteria.
OMC tidak menciptakan awan dari kondisi langit yang kosong, tetapi memanfaatkan awan yang tumbuh secara alami dan memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.
Pada 6 September, BMKG mengamati awan cumulus di sekitar Halmahera Timur dan Halmahera Tengah dengan dasar awan sekitar 6.000–7.000 kaki dan puncak 11.000–12.000 kaki. Sementara di Halmahera Utara dan Pulau Morotai, dasar awan berada pada kisaran yang sama dengan puncak mencapai 12.000–14.000 kaki.
Di sisi lain, BMKG pada 6 September mendeteksi 135 titik panas di wilayah Halmahera. Rinciannya, 24 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 110 titik tingkat kepercayaan sedang dan satu titik tingkat kepercayaan tinggi.
Tingkat kemudahan terbakar juga bervariasi dari kategori rendah hingga sangat tinggi. Sejumlah wilayah di bagian selatan Halmahera Barat dan Halmahera Utara, bagian timur Halmahera Timur serta beberapa lokasi di Halmahera Selatan masuk kategori sangat tinggi.
Data radar BMKG pada 6 September pukul 16.25 WIT juga menunjukkan hujan masih berada pada intensitas ringan, dengan kisaran 0,1–5 milimeter. Hujan terpantau antara lain di Halmahera Utara, Halmahera Barat, Pulau Morotai dan sebagian Halmahera Timur.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama BNPB, BMKG dan BPBD akan terus memantau perkembangan cuaca serta kondisi karhutla untuk menentukan langkah penanganan berdasarkan data dan kondisi aktual di lapangan.***





Tinggalkan Balasan