CARITA KOTA – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyoroti rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa. Ia menyebut skor literasi siswa hanya 37 dan numerasi 36 dari angka 100.

Menurut gubernur, capaian tersebut harus menjadi perhatian serius karena kemampuan literasi dan numerasi menjadi dasar bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan maupun menghadapi dunia kerja.

“Jangan menghabiskan tiga tahun anak-anak pergi ke sekolah percuma, habis itu mereka tak bisa masuk di universitas terbaik yang mereka inginkan,” tegas  Sherly saat menyampaikan sambutan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pendidikan yang berlangsung di Ternate pada Rabu malam 23 September 2026.

Ia menjelaskan, literasi tidak sebatas kemampuan membaca, tetapi juga memahami informasi yang dibaca maupun didengar. Sementara numerasi berkaitan dengan kemampuan memahami dan menggunakan informasi berupa angka.

Menurutnya, kedua kemampuan tersebut penting untuk membentuk pola berpikir dan membantu siswa menyelesaikan berbagai persoalan.

“Di marketplace, di dunia kerja, seseorang itu punya nilai jika dia bisa menyelesaikan masalah,” katanya.

Karena itu, gubernur meminta guru terus mengembangkan metode pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia.

Ia mencontohkan pemanfaatan berbagai platform digital dan kecerdasan buatan sebagai sarana belajar, termasuk untuk membantu memahami berbagai persoalan.

“Ada handphone, ada TikTok, ada YouTube, ada AI, ada ChatGPT. Masing-masing guru belajar dengan saya sendiri jadi gubernur, saya belajar dengan ChatGPT,” ujarnya.

Sekedar diketahui, rapat tersebut dihadiri Dirjen Pendidikan Menengah dan Khusus, Kemendikdasmen Tatang Muttaqin, dan Direktur Sekolah Menengah Atas Yuli Hariayanto, Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara Abubakar Abdullah, serta seluruh kepala sekolah se-Maluku Utara.***