CARITA KOTA – Pelajar SMAN 11 Ternate yang terdampak gempa di Kecamatan Pulau Batang Dua terpaksa mengikuti ujian kelulusan di tenda posko pengungsian pada hari kedua pelaksanaan, Rabu 15 April 2026. 

Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga proses belajar mengajar tetap berjalan di tengah kondisi darurat, sekaligus menjamin keselamatan siswa dari potensi risiko gempa susulan.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, mengatakan pelaksanaan ujian di luar ruang kelas dilakukan karena pertimbangan keamanan dan kondisi psikologis siswa.

Menurutnya, meski seluruh persiapan teknis ujian telah dilakukan sejak 13 April dan panitia sudah siap, pihak sekolah belum dapat melaksanakan ujian di dalam kelas demi menghindari risiko bagi peserta didik.

“Hal itu untuk menjamin keselamatan dan keamanan para siswa,” ujarnya.

Selain faktor keselamatan, kondisi mental siswa juga menjadi perhatian pemerintah. Dalam situasi yang belum sepenuhnya kondusif, siswa dikhawatirkan tidak dapat mengikuti ujian dengan tenang dan optimal jika dipaksakan di ruang kelas.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara pun merespons dengan menyediakan tenda belajar sementara guna mendukung pelaksanaan ujian dan kegiatan belajar mengajar di lokasi pengungsian.

Salah seorang siswa mengaku telah dua hari mengikuti ujian di tenda pengungsian. Meski dalam keterbatasan, ia merasa pelaksanaan ujian tetap berjalan cukup nyaman.

“Meski di tengah keterbatasan, cukup nyaman ujian di tenda ini,” katanya.

Melalui koordinasi lintas sektor yang terus dilakukan, pemerintah berharap penanganan dampak gempa, termasuk di sektor pendidikan, dapat berjalan terarah dan memberikan rasa aman bagi masyarakat terdampak di Pulau Batang Dua.***