Hadapi Demo Warga Bobo dengan Emosi, Begini Kata Wali Kota Tidore
CARITA KOTA – Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Senen marah-marah saat menghadapi masa demonstrasi pada Senin 18 Mei 2026.
Tindakan marah-marah Wali Kota Tidore itu terjadi saat warga Kelurahan Bobo, Kecamatan Tidore Utara kembali menggelar aksi unjuk rasa terkait puisi yang yang dibacakan dalam sebuah pertunjukan bertajuk “monolog pahlawan nasional” yang dinilai oleh masa aksi mengandung unsur rasisme terhadap warga Bobo.
Aksi demonstrasi dengan memblokade akses jalan utama tersebut berlangsung di depan Kantor Lurah Bobo sekira pukul 09.00 WIT.
Sekitar pukul 11 siang, Wali Kota Tidore Muhammad Senen datang menghampiri masa aksi. Sebagaimana dalam video pendek yang diterima caritakota.com, tampak walikota terlihat marah-marah ke masa aksi.
Beberapa orang disekitar walikota terlihat berupaya menghentikan tindakan emosional walikota demi menghindari tindakan berlebihan. Sejumlah petugas keamanan di lokasi juga turut mengamankan situasi.
Saat dikonfirmasi lebih lanjut via telepon, Muhmmad Senen menjelaskan bahwa aksi serupa sebelumnya sudah pernah dilakukan dan tuntutan demonstrasi ditindaklanjuti ke ranah hukum.
Menurutnya, aksi pemalangan jalan yang kembali dilakukan warga mengganggu aktivitas masyarakat sehingga dirinya turun langsung meminta massa membuka akses jalan.
“Sementara kan penyelidikan sementara jalan, sudah panggil saksi-saksi, dan sudah memanggil mereka (masa aksi) semua. Seharusnya kan dorang (mereka masa aksi) itu menunggu, tapi ini dorang palang jalan makanya saya turun, karena banyak orang telepon ke saya kenapa masa aksi pele (palang) jalan. Makanya saya turun minta tidak menghalangi akses jalan, tapi mereka tidak mau. Makanya wajar saya marah karena jalan itu untuk kepentingan umum,” jelas ayah erik sapaan akrap walikota.
Selain itu ayah juga menyatakan bahwa masa aksi tidak menerima kehadiran dirinya dan menuduhnya provokator, masa aksi malah meminta pihak kepolisian dan sultan untuk hadir dan merespon persoalan tersebut.
“Masa aksi bilang dorang (mereka) tidak butuh walikota, tapi yang dong (mereka) butuh itu polisi dan sultan. Baru dorang (mereka) tuduh walikota provokator, siapa yang tidak marah kalau seperti itu,” jelasnya.
Sekedar informasi, hingga berita ini ditayangkan, upaya konfirmasi kepada koordinator massa aksi juga dilakukan namun belum mendapat tanggapan.






Tinggalkan Balasan