The Tebings dan Burung Indonesia Petakan Kawasan Konservasi Spesis Endemik di Tomajiko
CARITA KOTA – Yayasan The Tebings bekerja sama dengan Burung Indonesia menggelar diseminasi hasil kajian penguatan tata kelola konservasi spesies endemik dan prioritas di Kelurahan Tomajiko, Pulau Hiri, Kota Ternate.
Kegiatan tersebut membahas hasil pemetaan sejumlah wilayah yang dinilai berpotensi menjadi area perlindungan bagi spesies endemik dan prioritas, yakni kepiting kelapa atau dalam bahasa lokal disebut disau, dugong atau kobo, serta burung gosong Maluku atau muleo.
Pemetaan dilakukan untuk mengidentifikasi kawasan yang dianggap penting bagi perlindungan keanekaragaman hayati di wilayah Tomajiko. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam mendorong upaya konservasi yang melibatkan masyarakat setempat.
Diseminasi tersebut merupakan tindak lanjut dari riset lapangan yang dilakukan tim riset The Tebings bersama lima mahasiswa magang dari Program Studi Antropologi Sosial, Universitas Khairun.
Hasil riset menunjukkan kawasan Tomajiko memiliki potensi keanekaragaman spesies endemik yang membutuhkan upaya perlindungan secara bersama-sama dengan masyarakat lokal.
Akademisi Universitas Khairun sekaligus peneliti The Tebings, Supyan, M.Si., mengatakan pemetaan kawasan konservasi perlu dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat yang selama ini beraktivitas di wilayah tersebut.
“Dalam kegiatan itu, masyarakat bersama-sama mengidentifikasi wilayah yang dianggap rawan maupun kawasan yang perlu diprioritaskan untuk perlindungan spesies,” kata Supyan kepada caritakota.com, Selasa, 15 September 2026.
Kegiatan melibatkan nelayan, penangkap kepiting, petani, perwakilan perempuan, tokoh adat, pemuda, hingga perangkat Kelurahan Tomajiko. Perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) juga hadir untuk memberikan masukan terkait aturan dan perlindungan satwa.
Adapun Lurah Tomajiko, Musa Ibrahim, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap upaya konservasi tidak berhenti pada kegiatan diseminasi, tetapi dapat dilanjutkan secara berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya.
“Keberlanjutan program penting agar keberadaan spesies endemik di wilayah Tomajiko tetap terpelihara dengan baik,” ucapnya.
Sementara itu, perwakilan BKSDA, drh. Hasrian, menyebut konservasi kepiting kelapa dapat dikembangkan melalui skema penangkaran. Upaya tersebut dinilai tidak hanya membantu menjaga populasi kepiting kelapa, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Penangkapan kepiting kelapa dari alam dilarang berdasarkan ketentuan yang berlaku. Karena itu, apabila masyarakat ingin mengembangkan penangkaran, harus disertai dengan pengurusan izin serta peninjauan kelayakan lokasi oleh pihak terkait,” tegasnya.
Hasil pemetaan dalam kegiatan tersebut selanjutnya diharapkan menjadi pondasi awal penyusunan kesepakatan lokal mengenai wilayah yang perlu dilindungi.
Upaya ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat perlindungan keanekaragaman spesies endemik di Pulau Hiri dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dalam pengelolaan dan konservasi kawasan.***





Tinggalkan Balasan