CARITA KOTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong legenda Putri Dehegila di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, untuk dikembangkan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi kreatif daerah. Hal itu disampaikan dalam rilis yang diterima caritakota.com pada Minggu 16 Agustus 2026.

Upaya tersebut dilakukan melalui riset Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN bersama Universitas Khairun (Unkhair), dengan menginventarisasi dan merekonstruksi cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Morotai.

Legenda Putri Dehegila menjadi salah satu cerita yang mendapat perhatian utama. Selain didokumentasikan sebagai warisan sastra lisan, cerita tersebut dikaji untuk mengidentifikasi berbagai unsur budaya yang berpotensi dikembangkan menjadi produk industri kreatif.

Tim peneliti tidak hanya menggali alur cerita, tetapi juga karakter tokoh, pakaian, senjata, kapal, lanskap kepulauan, simbol, kuliner, serta gambaran kehidupan masyarakat yang terdapat dalam legenda.

Elemen-elemen tersebut dinilai dapat menjadi sumber inspirasi bagi sejumlah subsektor ekonomi kreatif, seperti seni pertunjukan, kriya, kuliner, fesyen, film, fotografi, penerbitan, komik, gim digital hingga penyelenggaraan acara.

Legenda Putri Dehegila berkisah tentang seorang putri bernama Dei. Karena dianggap telah cukup usia untuk menikah, ayahnya yang merupakan seorang pemimpin di wilayah tersebut berupaya mencarikan pasangan yang dianggap pantas.

Untuk menentukan calon suami Putri Dei, digelar sayembara berupa pertarungan bela diri. Sayembara itu dimenangkan Kapita Sopi, tokoh yang dalam legenda disebut berasal dari wilayah utara Morotai.

Namun, kemenangan tersebut belum langsung membuat Kapita Sopi dapat mempersunting Putri Dei. Ia harus memenuhi syarat berupa mahar perkawinan, yakni memindahkan pulau-pulau di wilayah utara Morotai ke wilayah selatan hanya dalam waktu satu malam.

Tugas itu berhasil dilakukan. Dalam salah satu versi yang berkembang di masyarakat, dari 12 pulau yang hendak dipindahkan, 11 berhasil mencapai wilayah selatan, meski salah satunya tiba tidak bersamaan dengan pulau lainnya.

Kegagalan memindahkan seluruh pulau tidak membatalkan perkawinan. Kapita Sopi tetap diterima sebagai pasangan Putri Dei dan perkawinan keduanya kemudian dirayakan bersama masyarakat.

Tim peneliti menemukan legenda Putri Dehegila berkembang dalam sejumlah versi di tengah masyarakat.

Dalam satu versi, syarat mahar ditetapkan Sangaji yang merupakan ayah Putri Dei. Sementara dalam versi lain, syarat tersebut justru diajukan oleh Putri Dei sendiri.

Perbedaan juga ditemukan dalam cerita mengenai asal-usul pulau. Ada versi yang menyebut pulau-pulau tersebut dipindahkan Kapita Sopi, sedangkan versi lainnya menggambarkan pulau-pulau itu sebagai sesuatu yang diciptakan.

Bagi peneliti, perbedaan tersebut merupakan bagian penting dari tradisi lisan. Variasi cerita menunjukkan bagaimana sebuah legenda diwariskan, ditafsirkan, dikembangkan, dan dimaknai masyarakat dari generasi ke generasi.

Karena itu, riset BRIN tidak diarahkan untuk menyeragamkan cerita, tetapi mendokumentasikan keragaman tradisi lisan sekaligus mengkaji konteks sosial dan budaya yang melatarbelakanginya.

Riset BRIN bersama Unkhair dirancang berlangsung selama tiga tahun. Pada tahap pertama 2026, tim berfokus pada inventarisasi cerita rakyat serta identifikasi unsur naratif dan budaya yang berpotensi dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.

Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan dan implementasi hasil riset sehingga penelitian tidak berhenti pada dokumentasi dan publikasi, tetapi dapat dimanfaatkan bagi masyarakat dan daerah.

Pengembangan legenda Putri Dehegila juga diarahkan untuk terhubung dengan potensi wisata Morotai. Lanskap kepulauan yang terdapat dalam legenda dapat dipadukan dengan pengalaman wisata, sementara tokoh, simbol, dan artefak budaya dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.

Tim peneliti berharap proses tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, kesultanan, pelaku usaha, investor, UMKM, komunitas adat, pelaku seni dan budaya, serta masyarakat.

Kolaborasi dinilai penting agar pengembangan cerita rakyat sebagai sumber ekonomi kreatif tetap menghormati nilai, konteks, dan hak budaya masyarakat sebagai pemilik pengetahuan dan tradisi.

Melalui riset tersebut, BRIN berharap legenda Putri Dehegila tidak hanya tetap hidup sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber kreativitas dan kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat Morotai.***