Disdik Ternate Aktifkan Gerakan Membaca 15 Menit, Sekda Launching di Rabu Membaca
CARITA KOTA – Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Pendidikan kembali mengaktifkan gerakan membaca selama 15 menit sebelum proses belajar mengajar di seluruh satuan pendidikan.
Gerakan tersebut direncanakan akan dilaunching pada Rabu, 21 Oktober 2026 bertajuk “Rabu Membaca” yang digelar di SMP Negeri 1 Kota Ternate. Sementara peluncuran akan dilakukan Sekretaris Daerah (Sekda) sekaligus Ketua PGRI Kota Ternate, Rizal Marsaoly.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Ternate, Nurlela H. Syarbin, mengatakan, pengaktifan kembali gerakan membaca ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi peserta didik yang mengalami penurunan.
“Berdasarkan rapor pendidikan tahun 2025, capaian literasi jenjang SD di Kota Ternate turun dari 51,68 persen menjadi 42,5 persen atau menurun sebesar 9,8 persen,” kata Nurlela kepada caritakota.com, Senin, 19 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, gerakan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran sebenarnya sudah pernah diterapkan di sekolah. Namun, seiring berjalannya waktu, pelaksanaannya mulai berkurang karena peserta didik merasa bosan.
Karena itu, kata dia, dengan mengaktifkan kembali program tersebut guna dapat menumbuhkan budaya membaca menjadi kebiasaan di lingkungan sekolah, tidak hanya sebatas pada aktivitas di perpustakaan.
“Jadi, bukan hanya literasi di perpustakaan, tetapi literasi di lingkungan pembelajaran. Karena kita lihat sudah jarang, kemudian nilai literasi kita di rapor pendidikan juga rendah,” jelasnya.
Nurlela juga menyebutkan, capaian literasi jenjang SMP di Kota Ternate juga masih berada pada kategori sedang. Meski demikian, terdapat peningkatan dari 64,37 persen menjadi 64,58 persen atau naik 0,9 persen.
Ia mengatakan, capaian literasi dan numerasi menjadi perhatian karena berkaitan dengan hasil evaluasi pendidikan, termasuk Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang mengukur kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.
“Indikatornya tes TKA. Kemarin kan asesmen diganti TKA. Jadi TKA itu ada soal matematika dan bahasa indonesia. Jadi bahasa indonesia masuk literasi, matematika numerasi,” ujarnya.
Nurlela menambahkan, soal-soal dalam TKA membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS), sehingga siswa tidak cukup hanya menghafal materi, tetapi juga harus mampu memahami teks dan menganalisis persoalan.
“Jadi untuk yang di TKA ini soal-soal hots. Misalnya, satu soal cerita itu ada jawabannya 5 soal. Jadi kalau anak itu tidak menggunakan berfikir kritis, itu dia tidak bisa menjawab soal-soal itu,” jelasnya.
Nurlela menegaskan, meskipun peluncuran dipusatkan di SMP Negeri 1 Kota Ternate, pelaksanaan gerakan tersebut akan diberlakukan bagi seluruh satuan pendidikan di wilayah Kota Ternate.***





Tinggalkan Balasan