CARITA KOTA – Dalam rangka mendukung implementasi city branding Ternate Kota Rempah, Swalayan Tara No Ate Kota Ternate mendorong setiap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menerapkan rebranding Ternate Kota Rempah pada kardus dan kemasan produk.

Direktur Swalayan Tara No Ate Kota Ternate, Burhanuddin S. Roppe, mengatakan dorongan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Ternate, Hj. Marliza H. M. Tauhid.

“Jadi ini ikut arahan dari tong pe ketua, Ibu Wali Kota. Dalam hal ini Ibu Wali sebagai Ketua Dekranasda, sudah memberikan arahan torang pe dukungan terhadap Pemerintah Kota salah satunya rebranding Ternate Kota Rempah,” ujar Burhanuddin kepada caritakota.com, Rabu, 14 Oktober 2026, di ruang kerjanya.

Menurut Burhanuddin, pihaknya sejak awal telah menerapkan rebranding Ternate Kota Rempah pada setiap pesanan melalui penggunaan kemasan kardus dan paper bag.

“Makanya torang dari awal sekali torang pe pemesanan, itu torang selalu pake Ternate Kota Rempah melekat di kardus sama di paperbag,” jelasnya.

Selain menerapkannya pada kemasan produk sendiri, pihaknya juga mendorong implementasi city branding kepada UMKM yang menjadi mitranya. Dorongan tersebut dilakukan dengan memberikan imbauan agar setiap kemasan produk yang dipasarkan di Tara No Ate mencantumkan branding Ternate Kota Rempah.

“Ini torang sudah memberikan imbauan kepada teman-teman UMKM agar setiap produk, setiap kemasan itu dorang taru Ternate Kota Rempah. Ya, teman-teman (UMKM) yang titik produknya di Tara No Ate,” terang Burhanuddin.

Ia menyebutkan, saat ini sekitar empat hingga enam UMKM mulai menerapkan branding tersebut. Melalui kemasan itu, konsumen yang berbelanja diharapkan dapat membawa pulang oleh-oleh dengan identitas Ternate Kota Rempah yang melekat pada paper bag.

“Jadi itu rebranding yang melekat di setiap kemasan produk. Teman-teman UMKM mendukung itu dan Alhamdulillah sudah ada yang melakukan itu. Sampai sekarang sekitar 4 hingga 6 orang yang melakukan itu,” akunya.

Burhanuddin menjelaskan, salah satu kendala dalam penerapan branding tersebut adalah sebagian UMKM masih memiliki stok kardus dan kemasan yang telah dipesan dalam jumlah banyak.

Karena itu, penyesuaian akan dilakukan secara bertahap setelah kemasan yang tersedia habis dan UMKM kembali melakukan pemesanan.

“Seperti yang kita bilang tadi, kalau dorang pe kardus dan kemasan yang lain so pesan banyak. Jadi untuk penyesuaian lagi, dorang butuh ini (produk) habis baru dong pesan lagi,” bebernya.

Meski demikian, Burhanuddin memastikan branding Ternate Kota Rempah akan diterapkan pada setiap kemasan produk UMKM yang dipasarkan di Tara No Ate.

“Yang jelas Ternate Kota Rempah akan masuk di setiap kemasan produk-produk UMKM yang titik produknya di Tara No Ate. Itu arahan dari Ibu Wali juga seperti itu dan imbauan,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan, produk yang tersedia di Tara No Ate terdiri atas sekitar tujuh jenis. Untuk sementara, produk yang telah memiliki branding Ternate Kota Rempah meliputi kopi, olahan ikan, dan makanan ringan.

“Alhamdulillah progresnya baik. Produk-produk di Tara No Ate ini semuanya sekitar ada 7 jenis, yang punya branding ini untuk sementara untuk minuman ada kopi, olahan ikan, dan makanan ringan. Jadi tong mulai pelan-pelan dulu toh,” jelasnya.

Burhanuddin berharap, penerapan branding tersebut dapat berjalan secara bertahap seiring dengan perubahan dan pemesanan ulang kemasan produk oleh para pelaku UMKM.

“Mudah-mudahan ini dia akan berjalan bertahap, kalau dorang pe kemasan so mulai berubah lagi atau pemesanan habis dong akan ganti samua,” tambahnya.

Ia menargetkan, penerapan city branding Ternate Kota Rempah di Swalayan Tara No Ate dapat diselesaikan pada 2026.

Burhanuddin menyebutkan, terdapat sekitar 247 UMKM aktif yang memasukkan produk untuk dipasarkan di Tara No Ate. Seluruh UMKM tersebut ditargetkan menerapkan branding Ternate Kota Rempah pada kemasan produknya.

“Tong target 2026 ini semua selesai rebranding itu. UMKM semua yang aktif itu sekitar 247, kisarannya begitu yang aktif masukan barang di sini. 247 ini harus ada branding. Itu tong rencana harus ada. Karena memang baru sosialisasi di tingkat UMKM yang besar-besar dulu,” pungkasnya.***